Jumat, 21 Maret 2014

Psikologi Diagnostik III : Wawancara


PSIKOLOGI DIAGNOSTIK III : WAWANCARA
WAWANCARA PERSUASIF


KELOMPOK 3:
Adelina Novia
Alvi Cahya
Anugrah Alif Bagus
Deasy Ayu
Umaimah Lathifah Hanun

NON REGULER D 2012

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PSIKOLOGI
2012


BAB 1
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Apabila kita mengkaji tentang wawancara, tentunya kita akan membahas tentang proses tanya jawab. Bukan hanya itu saja, wawancara sendiri memiliki makna yang penting yakni suatu kegiatan yang dilakukan untuk menggali informasi dari narasumber.
Kegiatan wawancara yang dilakukan bukan hanya untuk mendapatkan informasi semata, melainkan juga dapat menguji mental kita untuk bertanya dengan orang lain, apalagi bukan orang yang kita kenal. Informasi yang kita dapatkan dari hasil wawancara nantinya dapat kita ubah menjadi suatu narasi agar penyampaiannya kepada khalayak dapat dimengerti.
Wawancara yang kami lakukan kali ini adalah wawancara bertema persuasif dimana kami mewawancarai seorang SPG (Sales Promotion Girl) yang bekerja di Pasaraya Manggarai Jakarta Selatan.
B.     Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembaca memahami makalah ini, maka kami akan membatasi pembahasan dalam makalah yang sederhana ini. Sehingga maksud dan tujuan kami sampai kepada pembaca. Adapun batasan masalah yang akan kami paparkan adalah sebagai berikut :
·         Bagaimana rekrutmen para SPG?
·         Bagaimana pendekatan terhadap pelanggan yang baik?
·         Pada umunya, adakah strategi tertentu yang dipakai SPG dalam memasarkan produk?

C.     Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memberikan informasi secara konferhensif kepada pembaca tentang cara memperoleh informasi dengan metode malakukan wawancara persuasif kepada narasumber.
Disamping itu kami juga berharap dengan adanya makalah ini, penilai kiranya memberikan nilai yang baik . Sehingga penilaian objektif yang diberikan dapat memotivasi kami untuk berkarya dan berbuat yang lebih di masa masa yang akan datang.



BAB 2
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Wawancara Persuasif
Wawancara persuasif adalah wawancara yang dilakukan dengan tujuan untuk informasi seakurat dan sekomplit mungkin, dengan berfokus pada persuasi. Wawancara persuasi biasanya dilakukan dengan maksud menganjurkan produk, jasa, organisasi, klien atau kepercayaan iter kepada itee. Pemahaman terhadap wawancara persuasif akana memberi gambaran teoritik dan praktis terhadap situasi-situasi yang melibatkan jenis wawancara ini.

B.     Etika Persuasi
Dalam wawancara persuasif perlu memperhatikan standar etika wawancara seperti kejujuran, keadilan dan kesungguhan hati. Terdapat beberapa panduan dalam wawancara persuasif :
1.      Mencari dan memberikan informasi yang akurat, lengkap, terbaru dan bukti yang relevan untuk mendukung semua poin selama wawancara.
2.      Secara akurat dan adil dalam memilih ide-ide, argumen, bahasa, dan taktik.
3.      Memperhitungkan kemungkinan klaim dan konsekuensi dari pemikiran, perasaan, atau tindakan yang diusulkan.
4.      Mengemukakan informasi dengan jelas, langsung dan jujur tentang niat dan alasan persuasi dilakukan.
5.      Bersikap toleran terhadap adanya perbedaan pendapat dan sudut pandang.
Lima kondisi yang berhubungan dengan persuasi dan wawancara persuasi dapat berhasil jika memperhatikan lima kondisi berikut :
1.      Anjuran dari iter dapat memenuhi satu atau lebih kebutuhan yang sangat diinginkan oleh itee
2.      Anjuran dari iter harus konsisten dengan nilai, sikap, dan kepercayaan yang dianut oleh itee
3.      Anjuran dari iter harus mudah dilakukan, dapat dilaksanakan, praktis dan menghasilkan sesuatu.
4.      Keuntungan dari saran yang iter berikan harus lebih banyak daripada kerugiannya.
5.      Saran dari iter merupakan solusi terbaik saat itu.
Kelima kondisi tersebut dapat dengan mudah dilakukan jika tujuh langkah berikut dilakukan:
1.      Mengerjakan tugas
a.       Menginvestigasi topik
b.      Menganalisa itee
c.       Mempelajari situasi
d.      Faktor dari luar
e.       Menetapkan tujuan

C.     Seleksi Pemilihan Strategi Persuasif
Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan sebagai strategi dalam melaksanakan wawancara persuasif.
1.      Teori identifikasi
Burke menyatakan bahwa cara untuk melakukan persuasi adalah dengan mengidentifikasi itee dimana iter perlu membangun kesamaan dengan itee. Dengan cara (a) iter mengasosiasikan dirinya dengan kelompok dimana iter dan itee berada; (b) iter dapat mengidentifikasi atau menyamakan penampilan fisik; (c) melalui gaya bahasa yang sama, dengan jargon-jargon profesional tertentu dan istilah dalam kelompok tertentu; (d) iter memilih dan menunjukan nilai yang sama dengan itee; (e) menggunakan simbol visual yang sama dengan itee.
2.      Teori konsistensi/keseimbangan
Teori konsistensi berlandaskan pada keyakinan bahwa manusia sedang berjuang untuk mencapai eksistensi yang harmonis dengan self dan akan mengalami ketidaknyamanan psikologis ketika aspek dari eksistensi tersebut tidak konsisten atau tidak seimbang.
3.      Teori inokulasi
Teori inokulasi berdasarkan pada keyakinan bahwa lebih efektif untuk mencegah efek persuasi yang tidak diinginkan daripada berusaha menanggulangi efek buruk yang terjadi.
4.      Teori paksaan
Iter dapat merubah pikiran, perasaan, dan tindakan itee dengan memaksanya untuk terlibat dalam aktivitas yang berlawanan dengan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap itee yanag dimiliki.
5.      Teori reaksi psikologis
Menurut teori reaksi psikologis, seseorang bereaksi secara negatif ketika merasa orang lain mengancam akan atau telah membatasi perilaku yang diinginkan.
D.     Struktur Wawancara
1.      Membuka wawancara
Pembukaan wawancara dilakukan dengan cara yang menarik perhatian dan dapat memotivasi itee untuk berpartisipasi aktif. Pembukaan dimulai dengan salam hangat dan menyapa nama itee. Setelah itu memperkenalkan diri dan tujuan dari wawancara.
2.      Menciptakan kebutuhan atau keinginan
a.       Memilih dan mengambangkan poin utama
b.      Mengembangkan alasan ke dalam pola-pola yang disetujui
c.       Menyesuaikan dengan itee
d.      Menyampaikan pertanyaan
E.     Kriteria dan Solusi
Menetapkan Kriteria
            Menetapkan kriteria dengan itee dilakukan untuk mengevaluasi semua kemungkinan solusi untuk kebutuhan atau keinginan yang telah iter tetapkan. Membangun sekelompok kriteria dengan itee melibatkan itee dalam proses dan menunjukan bahwa iter berusaha menyesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan kemampuan itee.
Menawarkan solusi
            Setelah kebutuhan telah ditentukan dan kriteria telah disetujui, iter perlu untuk mempresestasikan solusi secara detail.
1.      Rincian dan evaluasi
2.      Menangani keberatan itee
F.      Pelaksanaan Wawancara
Menutup wawancara
Terdapat tiga tahap dalam menutup sebuah wawancara:
1.      Percobaan penutupan
2.      Kontrak atau persetujuan
3.      Perpisahan


           



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
     Wawancara persuasif adalah wawancara yang dilakukan dengan tujuan untuk informasi seakurat dan sekomplit mungkin, dengan berfokus pada persuasi. Dalam wawancara persuasif perlu memperhatikan standar etika wawancara seperti kejujuran, keadilan dan kesungguhan hati. Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan sebagai strategi dalam melaksanakan wawancara persuasif. Dalam wawancara persuasif terdapat dan sangat perlu memiliki struktur wawancara yang berguna agar wawancara berjalan dengan semestinya. Menetapkan kriteria dengan itee dilakukan untuk mengevaluasi semua kemungkinan solusi untuk kebutuhan atau keinginan yang telah iter tetapkan. Setelah menentukan kriteria dan solusi dalam wawancara persuasif maka wawancara persuasif dapat ditutup secara positif dan percaya diri.





















LAMPIRAN
Narasumber yang kami wawancarai adalah seorang SPG berusia 26 tahun, bernama Wilda, yang bekerja sebagai SPG di Pasaraya Manggarai Jakarta Selatan. Berikut adalah kumpulan pertanyaan wawancara disertai jawaban yang telah diberikan oleh sang narasumber.
1.      Anda dibidang apa SPG-nya?
Saya bekerja dibidang sales assistant, dan SPG yang mempromosikan sepatu sandal merek Crocs. Saya sebenarnya juga menjual produk lain namun produk yang saya utamakan adalah Crocs.

2.      Bagaimana awalnya anda bisa tertarik menjadi SPG ini?
Saya tertarik menjadi SPG ini untuk mencari pengalaman, bagaimana bekerja sebagai SPG itu. Walaupun rasa jenuh menunggu konsumen suka ada, namun setidaknya saya mengetahui bagaimana rasanya menjadi SPG itu.

3.      Sudah berapa lama anda bekerja sebagai SPG disini?
Saya baru bekerja disini sekitar 3 bulan lebih.

4.      Sebelum anda direkrut untuk bekerja disini, bagaimana proses wawancara kerja yang dilakukan oleh perusahaan?
Saya hanya mengisi formulir dan pengalaman kerja saya yang mereka lihat.

5.      Bagaimana sikap anda untuk membuat calon pembeli tertarik?
Saya meyakinkan bahwa barang yang dijual disini adalah asli. Misalnya, sandal Crocs kan biasanya dijual banyak di emperan namun Crocs asli yang kami miliki jauh lebih berkualitas.

6.      Bagaimana perbedaan produk yang ada di pasaraya ini denga di tempat lain?
Sebenarnya sih sama, hanya saja kami lebih sering memberikan promo, misalnya diskon 20%.

7.      Bagaimana anda menggambarkan produk kepada calon konsumen dengan ekonomi dibawah standar?
Disini kebanyakan para pelanggannya menengah kebawah. Karena itu kami sering meyakinkan mereka dengan memberikan diskon selama hari Jumat, Sabtu, Minggu, atau akhir bulan. Dengan diskon 20% persen tadi diharapkan dapat meringankan mereka.

8.      Adakah pembeli yang bersikap tidak ramah kepada anda?
Kalau ada, biasanya kami memberikan teguran yang baik. Misalnya, “Silahkan Kak...” begitu. Walaupun demikian, tidak semua pelanggan mau terbuka, dan mereka hanya diam ketika ditegur.

9.      Selama anda bekerja empat bulan disini, adakah yang komplain terhadap produk atau kinerja anda?
Alhamdulillah komplain terhadap kinerja saya belum ada, hanya saja ada beberapa orang yang komplain tentang kemahalan harga produk kepada saya.

10.  Jika anda ditugaskan untuk menjual produk yang sulit laku dipasaran, apa strategi yang anda siapkan? Misalnya anda disuruh menjual Crocs yang bahannya membuat Crocs itu sulit laku?

11.  Jika anda ditempatkan bukan di pasaraya ini, mampukah anda bekerja seperti di pasaraya ini? Iya, bisa.

12.  Bagaimana cara pendekatan yang baik terhadap calon pembeli?
Kami minta database mereka dulu. Seperti merek apa yang mereka sukai, dll. Selain itu kami juga memberitahukan promo diskon yang sedang berlangsung jika mereka bertanya. Beberapa dari pelanggan ada yang mencoba meminta nomor telepon saya, namun tidak saya berikan. Saya justru meminta nomor mereka jika mereka ingin, supaya mereka uptodate dengan acara yang ada di pasaraya ini.

13.  Pada zaman sekarang ini banyak orang yang salah mengartikan SPG. Menurut anda, apakah SPG itu?
Banyak orang-orang menilai SPG itu negatif, terutama yang dinilai negatif itu adalah SPG rokok. Mungkin memang pekerjaannya seperti itu tapi semuanya tergantung pada diri kita sendiri apakah kita mau bekerja seperti itu atau tidak.

14.  Bagi SPG-SPG seperti anda, mana yang lebih penting? Gaya penampilan atau gaya memasarkan produk?
Gaya penampilan dan gaya memasarkan produk harus seimbang agar pelanggan menjadi tertarik. Kalau kita dapat menyambut pelanggan dengan baik, mereka pasti tertarik untuk membeli.

15.  Adakah atasan/pemilik toko anda yang menyuruh anda memasarkan produk dengan strategi khusus?
Kalau dibagian pekerjaan, manajer saya suka menyuruh saya untuk membuat acara tertentu di sebuah bulan, selain diskon 20% Jumat Sabtu itu. Walaupun itu jarang.

16.  Bagaimana anda mengantisipasi mood anda yang sedang kurang baik ketika anda sedang bertugas didepan pelanggan?
Mood seperti jenuh, bosan dll. memang seringkali datang dan biasanya dengan diam maka mood seperti itu dapat dikurangi tetapi saya juga tidak mungkin terlalu diam terhadap pelanggan. Karena itu saya berusaha untuk tetap friendly dengan pelanggan.

17.  Apakah ada kriteria tertentu dalam memilih orang sebagai target penjualan?
Tidak terlalu, tetapi biasanya ada untuk kalangan menengah keatas, dan bukan berari saya hanya menjual untuk kalangan itu. Saya tetap menawarkan Crocs pada setiap kalangan, sembari memberikan perbedaan Crocs yang dijual disini dengan di luar seperti warnanya, karetnya, dll. Selain itu saya juga menawarkan bahwa Crocs memiliki macam-macam model yang dapat dipakai di kantor, di rumah, sehingga nyaman dipakai dikaki.


















DAFTAR PUSTAKA

Psikologi Diagnostik II Observasi : Event Recording



PSIKOLOGI DIAGNOSTIK II OBSERVASI
EVENT RECORDING

Description: C:\Users\Meidina KH\Pictures\uneversitas negeri jkt .jpg

NAMA KELOMPOK 3 :
ANUGERAH FAUZI (1125125388)
DENISTYA RERY (1125125401)
FINANDA MURTIARTHA (1125125654)
UMAIMAH LATHIFAH HANUN (1125125707)
VEMY HERNITA (1125125376)
YOSAFAT NATANAEL (1125125711)

PSIKOLOGI NON-REG D 2012


Event Recording
            Dalam event recording (yang disebut juga sebagai event sampling), kamu mencatat setiap contoh dari perilaku tertentu atau kejadian tertentu yang terjadi selama observasi berlangsung. Seperti interval recording, event recording merupakan perrcobaan tentang perilaku. Tetapi, satuan pengukuran dalam interval recording adalah interval waktu dari perilaku target, sedangkan satuan pengukuran dalam event recording adalah perilakunya. Dengan kata lain, kamu menunggu perilaku yang telah dipilih (the event) terjadi dan kamu mencatatnya. Seperti interval redording, event recording sangat berguna untuk observasi terkontrol dan riset lab.
Major Uses of Event Recording
      Event recording menyediakan catatan sementara secara terus menerus dari perilaku yang diobservasi dan dengan demikian ini adalah cara sangat tepat untuk mengukur respons berlainan yang telah jelas awal dan akhirnya. Contohnya seperti mengeja kata dengan benar, menyelesaikan masalah, mengeluarkan respon sosial (seperti mengatakan “halo” atau berbagi mainan”, menarik-narik baju, bertingkah agresif, bangun dari tempat duduk, menggunakan kata-kata kotor, pergi ke toilet, makan, memberikan pertanyaan, mengalami kejang-kejang, membuat kesalahan dalam pidato, atau datang terlambat ke kelas.perilaku yang meninggalkan hasil yang permanen (seperti banyaknya kata yang dieja dngan benar, banyaknya masalah yang terselesaikan, atau banyaknya gambar) adalah hal yang mudah untuk diukur dengan menggunakan event recording. Sebagai tambahan, jika kamu menggunakan hasil yang menetap/permanen, kamu tidak perlu hadir ketika perilaku tertentu tersebut terjadi. Para guru atau orangtua dapat mengumpulkan hasil permanen tersebut untukmu.
Event recording kurang cocok untuk perilaku tingkat tinggi atau perilaku yang berubah-ubah dalam waktu ke waktu. Seperti contohnya, menepuk tangan adalah perilaku yang mungkin saja terjadi sangat sering, sehingga untuk memisahkan setiap kemunculannya menjadi sulit. Perilaku lain yang mungkin terlalu sering terjadi untuk event recording adalah seperti gerakan menggoyang-goyangkan; gerakan sentakan cepat yang dilakukan pada kepala, tangan, atau kaki; berlari; dan mengetuk-ngetuk benda. Respon-respon yang mungkin menjadi panjang selama periode waktu yang berbeda dan dapat menjadi hal yang sulit untuk direkam dengan menggunakan event recording termasuk menghisap jempol, membaca, mendengarkan, dan interaksi agresif.
How to Design an Event Recording
            Dalam menyusun sebuah acara rekaman Anda harus memutuskan ( a) berapa kali Anda akan melihat anak , ( b ) panjang periode observasi , ( c ) periode waktu dimana Anda akan melakukan pengamatan , ( d) perilaku target yang Anda akan mengamati dan ( e ) metode pencatatan data .
Frekuensi, panjang , dan waktu periode observasi.
Usia anak , pengaturan , dan alasan untuk penilaian akan mempengaruhi berapa kali Anda akan perlu untuk mengamati anak , panjang periode observasi , dan ketika Anda harus melakukan pengamatan . Sebuah sesi observasi dapat berlangsung dari 10 sampai 30 menit atau bahkan lebih lama . Mengatur waktu pengamatan Anda sehingga Anda can observe sampel yang representatif dari perilaku sasaran . Tentu mungkin, mengamati anak lebih dari sekali dan pada waktu yang berbeda sepanjang hari .
Target Behavior
            Pilih target perilaku berdasarkan cerita yang terlebih dahulu direkam, informasi wawancara, pertanyaan penyerahan, atau tes perilaku anak. Saat anda menggunakan rancangan sebelum kode sistem observasional, sistem kode tersebut akan menetapkan target perilaku.
Method of Recording Data
            Anda dapat merekam respon dalam berbagai cara, seperti menggunakan checklist, counter pergelangan tangan, counter tangan, counter elektromekanik, atau perangkat mekanis lain atau mentransfer benda kecil dari salah satu saku anda yang lain. Untuk tes paper and pencil anda dapata menggunakan berbagai metode untuk membuat perhitungan.
metode tradisional stroke:

metode dot and line:
Description: C:\Users\Umaimah Hanun\Pictures\762px-Dot_and_line_tally_marks.jpeg
Untuk merekam durasi perilaku, anda dapat menggunakan stopwatch, jam tangan, jam waktu, jam dinding atau beberapa perangkat waktu yang lain. Jika anda ingin merekam waktu perilaku yang terjadi dalam waktu yang tepat, anda mungkin ingin menggunakan laptop. Ada beberapa counter yang akan merekam kedua frekuensi kejadian dan durasi. Sebagai contoh sebuah panel counter yang memiliki beberapa tombol yang dapat digunakan, dengan satu tombol yang di tetapkan untuk masing-masing perilaku. Anda hanya memegang kunci dari durasi perilaku dan panel mencatat frekuensi dan durasi frekuensi.
Quantitative Data in Event Recording
            Bagian utama dari data kuantitatif yang di poroleh dalam rekaman kejadian adalah jumlah frekuensi, jumlah frekuensi perilaku dalam jangka waktu tertentu. Contohnya, rekaman kejadian mungkin menghasilkan informasi yang “Chris menggunakan 10 kata profan selama periode observasi 20 menit”. Selain frekuensi perilaku , anda dapat mengukur beberapa dimensi perilaku lainnya dalam rekaman kejadian termasuk tingkat perilaku, durasi intensitas perilaku, dan perilaku laten. Mari kita mempertimbangakan masing-masing dimensi.
Rate of Behavior
            Anda mendapatkan tingkat di mana perilaku yang terjadi selama sesi dengan membagi jumlah perilaku dengan panjang periode pengamatan.
Tingkat Perilaku =  n/t
Dimana      n = jumlah perilaku
                   T = panjang periode pengamatan.
Misalnya, jika Jessica diamati untuk keluar dari kursi 40 kali selama 10 menit pengamatan, tingkat perilaku akan sebagai berikut:
Tingkat perilaku           = n/t = 40/10 = 4/1
                                    = 4 kejadian per menit
Tingkat perilaku Jessica diamati untuk menjadi 4 kali per menit. Tingkat perilaku adalah indeks yang berguna sambil mencatat perubahan dalam perilaku anak, terutama di pengamatan sesi panjang berbeda.
Duration of Behavior
            Durasi perilaku dapat diperoleh dengan mencatat seberqapa lama setiap perilau itu berlangsung dari awal hingga akhir. Contohnya, untuk menentukan durasi amarah, saat menangis, berargumen, out-of-seat behavior, kerjasama, saat-saat menghisap ibu jari, atau menunda kepulangan saat selesai jam sekolah.
Dalam mengukur durasi terdapat dua jenis pengukuran durasi perilaku pertama adalah persentase waktu perilaku itu terjadi dan durasi rata-rata dari perilaku lain. Persentase waktu dari perilaku yang terjadi dihitung dengan membagi total durasi perilaku dengan lamanya waktu observasi.
Persentase waktu perilaku = d/i x100
d = total durasi perilaku
i = waktu pengamatan
durasi rata-rata dari perilaku dihitung dengan membagi total durasi perilaku dengan berapa kali perilaku itu muncul.
Rata-rata durasi perilaku = d/e
d = total durasi perilaku
e = banyaknya perilaku yang muncul
Intensity of Behavior
      Kamu dapat mendapatkan intensitas perilaku dengan cara membagi perilaku dalam tingkat-tingkat intensitas, seperti dalam interval recording. Sebagai contohnya, jika kamu mau mencatat intensitas dari perilaku agresif, kamu harus mengkategorikan periaku-perilaku agresif tersebut menjadi agak agresif, agresif sedang, dan agresif parah. Jika kamu meneliti seorang pelajar yang gurunya telah melaporkan bahwa pelajar tersebut telah menyerahkan semua tugas tetapi mengeluh, kamu dapat membaginya menjadi empat kategori, seperti (1) menyerahkan tugas tepat waktu tanpa mengeluh; (2) menyerahkan tugas tepat waktu dan mengeluh; (3) menyerahkan tugas telat tanpa mengeluh; (4) menyerahkan tugas telat dan mengeluh. Catat secara terpisah jumlah frekuensi dari masing-masing kategori.
Latency of Behavior
Anda mendapatkan latency perilaku dengan mencatat jumlah waktu yang berlalu antara isyarat yang diberikan dan timbulnya perilaku, ini memberitahu Anda berapa lama waktu yang dibutuhkan anak untuk memulai perilaku.
Latency biasanya diukur dengan stopwatch, digunakan untuk menentukan waktu dari isyarat untuk terjadinya perilaku. Tindakan Latency sangat berguna ketika Anda perlu menentukan waktu yang dibutuhkan chikd untuk mulai obat cacing setelah instruksi telah diberikan. Untuk mulai memenuhi permintaan, atau untuk berdiri setelah alarm berdering (Suzler-Azaroff & Reese, 1982). Langkah-langkah Latency secara khusus usefuk ketika Anda prihatin tentang kemampuan chikd untuk mengikuti petunjuk (Alessi, 1998)
Advantages of Event Recording
            Rekaman acara memiliki manfaat sebagai berikut:
·         Mendeteksi perilaku dengan tingkat rendah, terutama ketika pengamatan yang dibuat oleh orang-orang yang biasanya dalam pengaaturan
·         Memfasilitasi studi tentang berbagai perilaku yang berbeda dari berbagai macam peristiwa.
·         Menggunakan waktu dan tenaga secara efisien.
·         Dapat mengakomodasi banyak metode perkemahan yang berbeda
·         Menyediakan informasi tentang perubahan perilaku dari waktu ke waktu dan jumlah perilaku yang dilakukan.
Disadvantages of Event Recording
·         Memberikan pandangan dari urutan perilaku dengan memisahkan kondisi kejadian dimasa lalu yang mungkin telah melewatkan hal itu
·         Tidak mengungkapkan urutan atau pola temporal, kecuali respon waktu di catat
·         Menghancurkan perilaku yang berkelanjutan dengan menggunakan kategori yang terbatas
·         Tidak cocok untuk merekam perilaku yang tidak berlainan
·         Kesulitan dalam membangun reliabilitasnya di beberapa penelitian
·         Kesulitan dalama membangun kehandalan dari beberapa pengamat
·         Membatasi kuantifikasi bagaimana dan mengapa terkait dengan peristiwa tersebut kecuali jika ingin dicatat
·         Membuat sulit dalam sesi perbandingan jika panjang periode observasi tidak konstan

Illustrations of Event Recording
                   Dalam contoh berikut, peristiwa merekam dan ukuran durasi digunakan dalam kombinasi untuk memeriksa perilaku out-of-seat anak (Whitman, Seibak, Butler, Richter, dan Johnson, 1982). Perhatikan bahwa reliabilitas antar pengamat menentukan.
Exercise 4-3 Event Recording Exercises
1.    Dengan pengamat pembantu, amatilah seorang anakdi taman bermain selama 5 menit.dengan menggunakan prosedur event recording, catatlah setiap kali anak itu terlibat dalam suatu permainan (dalam kategori umum) dengan anak lain. Bermain dengan anak lainnya meliputi bermain parallel, bermain kooperatif, dan bermain tidak kooperatif, tetapi bukan bermain sendiri. Gunakan metode titik dan garis untuk mencatat perilaku target.
Setelah kamu selesai mencatat, tentukan level dari perjanjian interobserver dengan cara menghitung persentase kecocokan. Hitunglah juga laju dari perilaku target.
Pertimbangkanlh pertanyaan berikut ini dalam mengevaluasi event recordingmu :
·         Sebagaimana jelas perilaku target yang teramati?
·         Apakah perilaku target muncul dalam frekuensi yang cukup untuk dapat diamati?
·         Sejauh mana kemungkinan bahwa waktu tertentu dalam suatu hari dapat mempengaruhi perilaku anak?
·         Sejauh mana keadaan di taman bermain dapat mempengaruhi perilaku anak?
·         Sejauh mana perilaku target direpresentasikan oleh perilau anak selama observasi dilakukan?
·         Bagaimana bisa penentuan dari kategori observasional ditingkatkan?
·         Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerepresentatifan dari sebuah observasi??
·         Sejauh mana perilaku seorang anak dapat mewakilkan perilaku dari teman sebayanya?
·         Jika ada, bias apa yang dapat mempengaruhi observasi yang kamu lakukan?
Tulis satu atau dua laporan ayat yang menjelaskan pengamatan Anda . Sertakan informasi mengenai ( a) anak ( usia, jenis kelamin , dan karakteristik lain yang relevan ) , ( b ) pengaturan fisik di mana pengamatan berlangsung , ( c ) panjang waktu yang Anda mengamati anak , ( d ) frekuensi perilaku sasaran ( e ) tingkat perjanjian dengan co- observer Anda , ( f) sulit menentukan kapan perilaku sasaran mulai dan berakhir , ( g ) apakah definisi perilaku sasaran cukup memuaskan dan saran untuk meningkatkan definisi , dan ( h) implikasi dari temuan tHW ( misalnya , wheter perilaku itu cocok atau tidak ).

2.    ikuti prosedur umum yang sama seperti yang dijelaskan dalam latihan 1. Terdapat beberapa 3 perilaku sasaran: bermain soliter, bermain paralel, dan kelompok bermain. Menghitung tingkat interobserver secara terpisah untuk masing-masing 3 perilaku sasaran. Menghitung tingkat perilaku secara terpisah untuk setiap perilaku sasaran. Ikuti panduan dalam latihan 1.
3.   ikuti prosedur umum yang sama seperti yang dijelaskan dalam latihan 1. Observasi 4 tipe bermain: Bermain fungsional, bermain konstruktif, bermain dramatis, dan permainan dengan aturan. Menghitung tingkat interobserver secara terpisah untuk mencapai target perilaku.

4.    Bandingkan catatan-catatan yang didapat pada Latihan 1,2 dan 3. Apa perbedaan antara observasi bermain sebagai kategori umum, seperti di Latihan 1, observasi 3 tipe bermain yang berbeda,seperti di Latihan 2, dan observasi 12 sub tipe dari bermain, seperti di Latihan 3? Apa tujuan dari tiap tipe catatan sediakan? Informasi apa yang anda dapat (atau tidak dapat) dengan tiap tipe catatan? Tipe catatan mana yang lebih reliabel, dan mengapa? Tuliskan analisis anda dalam 1 atau 2 laporan paragraf.
5.    Dengan peneliti pembantu, observasilah seorang anak di tk selama 30 menit. Dapatkanlah izin dari sekolah sebelum memulai observasi ini. Pilihlah seorang anak yang tampaknya sedang terlibat dalam perilaku yg tidak baik (perilaku target) seperti berkelah,i mengamuk, perilaku yang menganggu atau perilaku yg tdk kooperatif. Catat setiap waktu perilaku tidak baik itu terjadi, gunakan metode titik dan garis.
Observasi perilaku tdk baik anak tsb mendapatkan per hatian orang dewasa dlm ruang an tsb  (perilaku target). Informasi ini Akan menunjukkan beberapa indikasi dari konsekuensi dari perilaku. Catat setiap kali anak tsb mendapatkan perhatian , Gunakan metode titik dan garis. Catatanmu harus memilki ruangan utuk mencatat frekuensi dr perilaku tdk baik anak tsb dan frekuensi dr perhatian org dewasa.
Hitung tingkat presentase dr persetujuan interobserver secara Terpisah utk dua perilaku target. Hitunglah nilainya secara Terpisah untuk dua perilaku target. Ikutilah petunjuk dari exercise 1.
6. Ikuti prosedur umum yang sama seperti yang dijelaskan dalam Exercse 1. Sekarang, meskipun demikian,catat lamanya waktu si anak bermain dengan anak-anak lainnya. Gunakan stopwatch atau alat lain untuk mengukur waktu yang berlalu. Hitunglah level dari perjanjian interobserver, waktu rata-rata dari perilaku, dan persentase dari waktu yang dihabiskan untuk perilaku tersebut.